Promo Umroh 2020  CP. 08111-34-1212 

diposkan pada : 18-03-2020 16:46:52

TATA CARA BERWUDHU RASULULLAH SAW

SIFAT WUDHU’ NABI Shallallahu ‘alaihi wa Salam

Secara syari’at wudhu’ merupakan menggunakan air yang suci unTtuk membasuh anggota-anggota tertentu yang sudah dijelaskan dan disyari’at kan Allah subhanahu wata’ala. Allah memerintahkan:

Hai orang-orang yang beriman, bilamana kamu berkeinginan melakukan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu hingga dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu hingga dengan , kedua mata-kaki (Al-Maaidah:6).

Allah tidak bakal menerima shalat seseorang sebelum ia berwudhu’ (HSR. Bukhari di Fathul Baari, I/206; Muslim, no.255 dan imam lainnya).

Rasulullah pun mengatakan bahwa wudhu’ adalahkunci diterimanya shalat. (HSR. Abu Dawud, no. 60).

Utsman bin Affan radhiyallahu’anhu  berkata: “Barangsiapa berwudhu’ laksana yang diberikan contoh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam, niscaya akan dimaafkan dosa-dosanya yang sudah lalu, dan perjalanannya mengarah ke masjid dan shalatnya sebagai ekstra pahala baginya” (HSR. Muslim, I/142, lihat Syarah Muslim, III/13).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Barangsiapa menyempurnakan wudhu’nya, lantas ia pergi menggarap shalat wajib bareng orang-orang dengan berjama’ah atau di masjid (berjama’ah), niscaya Allah memaafkan dosa-dosanya” (HSR. Muslim, I//44, lihat Mukhtashar Shahih Muslim, no. 132).

Maka wajiblah untuk segenap kaum muslimin guna mencontoh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam dalam segala hal, lebih-lebih dalam berwudhu’. Al-Hujjah kali ini mengemukakan secara ringkas mengenai tatacara wudhu’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam mengerjakan wudhu’:

1. Memulai wudhu’ dengan niat.

Niat dengan kata lain menyengaja dengan kesungguhan hati untuk menggarap wudhu’ sebab melaksanakan perintah Allah subhanahu wata’ala dan mengekor perintah Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa Salam.

Ibnu Taimiyah berkata: “Berdasarkan keterangan dari kesepakatan semua imam kaum muslimin, lokasi niat tersebut di hati bukan lisan dalam seluruh masalah ibadah, baik bersuci, shalat, zakat, puasa, haji, memerdekakan budak, berjihad dan lainnya. Karena niat ialah kesengajaan dan kesungguhan dalam hati. (Majmu’atu ar-Rasaaili al-Kubra, I/243)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam menjelaskan bahwa segala tindakan tergantung untuk niatnya, dan seseorang bakal mendapatkan balasan menurut keterangan dari apa yang diniatkannya… (HSR. Bukhari dalam Fathul Baary, 1:9; Muslim, 6:48).

2. Tasmiyah (membaca bismillah)

Beliau memerintahkan menyimak bismillah saat mengawali wudhu’. Beliau bersabda:

Tidak sah/sempurna wudhu’ sesorang andai tidak menyinggung nama Allah, (yakni bismillah) (HR. Ibnu Majah, 339; Tirmidzi, 26; Abu Dawud, 101. Hadits ini Shahih, lihat Shahih Jami’u ash-Shaghir, no. 744).

Abu Bakar, Hasan Al-Bashri dan Ishak bin Raahawaih mewajibkan menyimak bismillah ketika berwudhu’.

Pendapat ini dibuntuti pula oleh Imam Ahmad, Ibnu Qudamah serta imam-imam yang lain, dengan berpegang pada hadits dari Anas mengenai perintah Rasulullah untuk menyimak bismillah ketika berwudhu’. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Berwudhu’lah kalian dengan menyimak bismillah!” (HSR. Bukhari, I: 236, Muslim, 8: 441 dan Nasa’i, no. 78)

Dengan perkataan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam: ”Berwudhu’lah kalian dengan menyimak bismillah” maka wajiblah tasmiyah itu.

Adapun untuk orang yang tak sempat hendaknya dia menyimak bismillah saat dia ingat. Wallahu a’lam.

3. Mencuci kedua telapak tangan

Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam membasuh kedua telapak tangan ketika berwudhu’ sejumlah tiga kali. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam pun membolehkan memungut air dari bejana dengan telapak tangan lalu membasuh kedua telapak tangan itu. Tetapi Rasulullah melarang untuk orang yang bangan istirahat mencelupkan tangannya ke dalam bejana kecuali sesudah mencucinya. (HR. Bukhari-Muslim)

4. Berkumur-kumur dan mencium air ke hidung

Yaitu memungut air sepenuh telapak tangan kanan kemudian memasukkan air kedalam hidung dengan teknik menghirupnya dengan sekali nafas hingga air tersebut masuk ke dalam hidung yang sangat ujung, lantas menyemburkannya dengan teknik memencet hidung dengan tangan kiri. Beliau mengerjakan perbuatan ini dengan tiga kali cidukan air. (HR. Bukhari-Muslim. Abu Dawud no. 140)

Imam Nawawi berkata: “Dalam hadits ini terdapat penunjukkan yang jelas untuk pendapat yang shahih dan terpilih, yakni bahwasanya berkumur dengan mencium air ke hidung dari tiga cidukan dan masing-masing cidukan ia berkumur dan mencium air ke hidung, ialah sunnah. (Syarah Muslim, 3/122).

Demikian pula Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam menyarankan untuk bersungguh-sungguh mencium air ke hidung, kecuali dalam suasana berpuasa, menurut hadits Laqith bin Shabrah. (HR. Abu Dawud, no. 142; Tirmidzi, no. 38, Nasa’i )

5. Membasuh muka seraya menyela-nyela jenggot.

Yakni menyalurkan air keseluruh unsur muka. Batas muka itu ialah dari tumbuhnya rambut di kening hingga jenggot dan dagu, dan kedua pipi sampai pinggir telinga. Sedangkan Allah menyuruh kita:

”Dan basuhlah muka-muka kamu.” (Al-Maidah: 6)

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Humran bin Abaan, bahwa teknik Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam mencuci mukanya ketika wudhu’ sejumlah tiga kali”. (HR Bukhari, I/48), Fathul Bari, I/259. no.159 dan Muslim I/14)

Setalah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam mencuci mukanya beliau memungut seciduk air lagi (di telapak tangan), lantas dimasukkannya ke bawah dagunya, kemudian ia menyela-nyela jenggotnya, dan beliau bersabda bahwa urusan itu diperintahkan oleh Allah subhanahu wata’ala. (HR. Tirmidzi no.31, Abu Dawud, no. 145; Baihaqi, I/154 dan Hakim, I/149, Shahih Jaami’u ash-Shaghir no. 4572).

6. Membasuh kedua tangan hingga siku

Menyiram air pada tangan sampai mengairi kedua siku, Allah subhanahu wata’ala berfirman:

”Dan basuhlah tangan-tanganmu hingga siku” (Al-Maaidah: 6)

Rasulullah mencuci tangannya yang kanan sampai melalui sikunya, dilaksanakan tiga kali, dan yang kiri demikian pula, Rasulullah menyalurkan air dari sikunya (Bukhari-Muslim, HR. Daraquthni, I/15, Baihaqz, I/56)

Rasulullah pun menyarankan supaya melebihkan basuhan air dari batas wudhu’ pada wajah, tangan dan kaki supaya kecemerlangan bagian-bagian tersebut lebih panjang dan berkilauan pada hari kiamat (HR. Muslim I/149)

7. Mengusap kepada, telinga dan sorban

Mengusap kepala, mestilah dipisahkan dengan mengelus dahi atau beberapa kepala. Sebab Allah subhanahu wata’ala memerintahkan:

”Dan usaplah kepala-kepala kalian…” (Al-Maidah: 6).

Rasulullah memberikan contoh tentang metodenya mengusap kepala, yakni dengan kedua telapak tangannya yang sudah dibasahkan dengan air, kemudian ia menjalankan kedua tangannya mulai dari unsur depan kepalanya ke belakangnya tengkuknya lantas mengambalikan lagi ke depan kepalanya. (HSR. Bukhari, Muslim, no. 235 dan Tirmidzi no. 28 lih. Fathul Baari, I/251)

Setelah tersebut tanpa memungut air baru Rasulullah langsung mengelus kedua telingannya. Dengan teknik memasukkan jari telunjuk ke dalam telinga, kemudian jempol mengusap-usap kedua daun telinga. Karena Rasulullah bersabda: ”Dua telinga tersebut termasuk kepala.”(HSR. Tirmidzi, no. 37, Ibnu Majah, no. 442 dan 444, Abu Dawud no. 134 dan 135, Nasa’i no. 140)

Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Ahadits adh-Dha’ifah, no. 995 mengatakan: “Tidak ada di dalam sunnah (hadits-hadits nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam) yang mewajibkan memungut air baru guna mengusap dua telinga. Keduanya diusap dengan saldo air dari mengelus kepala menurut hadits Rubayyi’:

Bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam mengelus kepalanya dengan air saldo yang terdapat di tangannya. (HR. Abu Dawud dan lainnya dengan sanad hasan)

Dalam mengelus kepala Rasulullah melakukannya satu kali, bukan dua kali dan bukan tiga kali. Berkata Ali bin Abi Thalib ra : “Aku menyaksikan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam mengelus kepalanya satu kali. (lihat _Shahih Abu Dawud, no. 106). Kata Rubayyi bin Muawwidz: “Aku pernah menyaksikan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam berwudhu’, kemudian ia mengelus kepalanya yakni mengusap unsur depan dan belakang darinya, kedua pelipisnya, dan kedua telinganya satu kali.“ (HSR Tirmidzi, no. 34 dan Shahih Tirmidzi no. 31)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam pun mencontohkan bahwa untuk orang yang menggunakan sorban atau sepatu maka dibolehkan guna tidak membukanya ketika berwudhu’, lumayan dengan menyapu diatasnya, (HSR. Bukhari dalam Fathul Baari I/266 dan selainnya) asal saja sorban dan sepatunya itu digunakan saat shalat, serta tidak bernajis.

Adapun peci/kopiah/songkok bukan tergolong sorban, sebagaimana diterangkan oleh semua Imam dan jangan diusap diatasnya ketika berwudhu’ laksana layaknya sorban. Alasannya karena:

    Peci/kopiah/songkok diluar kelaziman dan pun tidak menutupi semua kepala.

    Tidak terdapat kesulitan untuk seseorang guna melepaskannya.

Adapun Kerudung, jilbab untuk wanita, maka dibolehkan guna mengusap diatasnya, sebab ummu Salamah (salah satu isteri Nabi) pernah mengelus jilbabnya, urusan ini dilafalkan oleh Ibnu Mundzir. (Lihat al-Mughni, I/312 atau I/383-384).

8. Membasuh kedua kaki hingga kedua mata kaki

Allah subhanahu wata’ala berfirman: ”Dan basuhlah kaki-kakimu sampai dua mata kaki” (Al-Maidah: 6)

Rasulullah mengajak umatnya supaya berhati-hati dalam mencuci kaki, sebab kaki yang tidak sempurna teknik membasuhnya akan terpapar ancaman neraka, sebagaimana beliau mengistilahkannya dengan tumit-tumit neraka.

Beliau memerintahkan supaya membasuh kaki hingga kena mata kaki bahkan beliau memberikan contoh sampai mengairi betisnya.

Beliau mendahulukan kaki kanan dicuci hingga tiga kali lantas kaki kiri pun demikian. Saat mencuci kaki Rasulullah menggosok-gosokan jari kelingkingnya pada sela-sela jari kaki. (HSR. Bukhari; Fathul Baari, I/232 dan Muslim, I/149, 3/128)

Imam Nawawi di dalam Syarh Muslim berkata. “Maksud Imam Muslim berdalil dari hadits ini mengindikasikan wajibnya mencuci kedua kaki, serta tidak lumayan jika dengan teknik mengusap saja.”

Sedangkan pendapat menyela-nyela jari kaki dengan jari kelingking tidak ada penjelasan di dalam hadits. Ini hanyalah pendapat dari Imam Ghazali sebab ia mengqiyaskannya dengan istinja’.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “…barangsiapa diantara kalian yang sanggup, maka hendaklahnya ia memanjangkan kecermerlangan muka, dua tangan dan kakinya.” (HSR. Muslim, 1/149 atau Syarah Shahih Muslim no. 246)

9. Tertib

Semua tatacara wudhu’ tersebut dilaksanakan dengan tertib (berurutan) muwalat (menyegerakan dengan basuhan berikutnya) dan disunahkan tayaamun (mendahulukan yang kanan atas yang kiri) [Bukhari-Muslim]

Dalam pemakaian air hendaknya secukupnya dan tidak berlebihan, karena Rasulullah pernah menggarap dengan sekali basuhan, dua kali basuhan atau tiga kali basuhan [Bukhari]

10. Berdoa

Yakni menyimak do’a yang diajarkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam:


“Asyahdu anlaa ilaa ha illalah wa asyhadu anna Muhammadan ‘abdullahi wa rasuulahu. Allahummaj ‘alni minattawwabiina waja’alni minal mutathohhiriin (HR. Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah)

Dan ada sejumlah bacaan beda yang diriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam.

Semoga artikel ini menjadi risalah dalam berwudhu’ yang benar serta adalahpedoman anda sehari-hari.

Artikel lainnya »