ITINERARY PERJALANAN UMROH PLUS THAIF 10HARI

Setiap jamaah yang berangkat umroh atau haji khusus Call/Wa. 08111-34-1212 pasti menginginkan perjalanan ibadah haji plus atau umrohnya bisa terlaksana dengan lancar, nyaman dan aman sehingga menjadi mabrur. Demi mewujudkan kami sangat memahami keinginan para jamaah sehingga merancang program haji onh plus dan umroh dengan tepat. Jika anda ingin melaksanakan Umrah dan Haji dengan tidak dihantui rasa was-was dan serta ketidakpastian, maka Alhijaz Indowisata Travel adalah solusi sebagai biro perjalanan anda yang terbaik dan terpercaya.?agenda umroh 12 hari

Biro Perjalanan Haji dan Umrah yang memfokuskan diri sebagai biro perjalanan yang bisa menjadi sahabat perjalanan ibadah Anda, yang sudah sangat berpengalaman dan dipercaya sejak tahun 2010, mengantarkan tamu Allah minimal 5 kali dalam sebulan ke tanah suci tanpa ada permasalahan. Paket yang tersedia sangat beragam mulai paket umroh 9 hari, 12 hari, umroh wisata muslim turki, dubai, aqso. Biaya umroh murah yang sudah menggunakan rupiah sehingga jamaah tidak perlu repot dengan nilai tukar kurs asing. umroh plus turki di Kepulauan Seribu

saco-indonesia.com, Sebuah analisis baru-baru ini telah mengungkapkan bahwa dalam 20 tahun terakhir jumlah es di Alaska semakin lama semakin menurun. Data ini telah didapat dari sebuah satelit radar yang telah mengitari beberapa kawasan bumi untuk dapat memantau situasi.

Kemungkinan besar, hal tersebut telah disebabkan oleh pemanasan global atau global warming. Lebih parah lagi, ilmuwan juga mengungkapkan kondisi akan terus berlanjut hingga di tahun-tahun mendatang.

Menurut lansiran Softpedia (3/2), hasil dari penyelidikan juga mengungkapkan bahwa penurunan danau es ini juga merupakan akibat langsung dari perubahan iklim dan pergeseran kecil lainnya terkait habitat serta ekosistem di seluruh dunia.

Jika hal ini terus akan terjadi, bukan tidak mungkin bumi akan merasakan akibatnya. Suhu bumi meningkat drastis. Otomatis, udara akan terasa panas dan semakin panas dari tahun ke tahun.

Beberapa wilayah di penjuru dunia sudah merasakan suhu ekstrem yang tidak wajar. Pemanasan global benar-benar akan menghantui penduduk bumi. Akankah ini terus berlanjut?


Editor : Dian Sukmawati

ES DI ALASKA TERUS MENCAIR, BUMI DALAM BAHAYA
Photo
 
Many bodies prepared for cremation last week in Kathmandu were of young men from Gongabu, a common stopover for Nepali migrant workers headed overseas. Credit Daniel Berehulak for The New York Times

KATHMANDU, Nepal — When the dense pillar of smoke from cremations by the Bagmati River was thinning late last week, the bodies were all coming from Gongabu, a common stopover for Nepali migrant workers headed overseas, and they were all of young men.

Hindu custom dictates that funeral pyres should be lighted by the oldest son of the deceased, but these men were too young to have sons, so they were burned by their brothers or fathers. Sukla Lal, a maize farmer, made a 14-hour journey by bus to retrieve the body of his 19-year-old son, who had been on his way to the Persian Gulf to work as a laborer.

“He wanted to live in the countryside, but he was compelled to leave by poverty,” Mr. Lal said, gazing ahead steadily as his son’s remains smoldered. “He told me, ‘You can live on your land, and I will come up with money, and we will have a happy family.’ ”

Weeks will pass before the authorities can give a complete accounting of who died in the April 25 earthquake, but it is already clear that Nepal cannot afford the losses. The countryside was largely stripped of its healthy young men even before the quake, as they migrated in great waves — 1,500 a day by some estimates — to work as laborers in India, Malaysia or one of the gulf nations, leaving many small communities populated only by elderly parents, women and children. Economists say that at some times of the year, one-quarter of Nepal’s population is working outside the country.

Nepal’s Young Men, Lost to Migration, Then a Quake

Artikel lainnya »