Setiap jamaah yang berangkat umroh atau haji khusus Call/Wa. 08111-34-1212 pasti menginginkan perjalanan ibadah haji plus atau umrohnya bisa terlaksana dengan lancar, nyaman dan aman sehingga menjadi mabrur. Demi mewujudkan kami sangat memahami keinginan para jamaah sehingga merancang program haji onh plus dan umroh dengan tepat. Jika anda ingin melaksanakan Umrah dan Haji dengan tidak dihantui rasa was-was dan serta ketidakpastian, maka Alhijaz Indowisata Travel adalah solusi sebagai biro perjalanan anda yang terbaik dan terpercaya.?agenda umroh 12 hari
Biro Perjalanan Haji dan Umrah yang memfokuskan diri sebagai biro perjalanan yang bisa menjadi sahabat perjalanan ibadah Anda, yang sudah sangat berpengalaman dan dipercaya sejak tahun 2010, mengantarkan tamu Allah minimal 5 kali dalam sebulan ke tanah suci tanpa ada permasalahan. Paket yang tersedia sangat beragam mulai paket umroh 9 hari, 12 hari, umroh wisata muslim turki, dubai, aqso. Biaya umroh murah yang sudah menggunakan rupiah sehingga jamaah tidak perlu repot dengan nilai tukar kurs asing. travel haji khusus Depok
WANITA KEJAR BANDIT YANG JAMBRET TASNYA
Wanita satu ini tergolong nekat. Seorang bandit tunggal yang telah menjambret tasnya dikejar hingga akhirnya tertangkap polisi di depan SPBU Jalan Ahmad Yani, Cempaka Putih,Jalkarta Pusat .
“Pelaku tersebut sudah tujuh kali beraksi dan biasa dia selalu berdua kalau beraksi tapi kali ini main tunggal, seminggu lalu ia juga menjambret di Jl Pramuka namun lolos dari sergapan petugas,”tegas Kapolsek Cempaka Putih Kompol Tofiq,SH,MH.
Kini bandit jambret yang sempat diamuk massa telah diamankan ke kantor polisi dan dari tangannya disita tas kulit milik korban, pelaku bersama sepeda motor Honda Supra X digunakan menjambret juga diamankan sebagai barang bukti.
Kanit Reskrim Polsek Cempaka Putih AKP Supriyadi, telah menuturkan kejadian tersebut sekitar pukul 04:30 dinihari, ketika itu korban Astuti yang berusia 24 tahun, warga Jalan Cipinang Muara, Jakarta Timur, mengendarai sepeda motor Yamaha Mio warna putih. Korban tadinya mau ke pasar kue subuh, karena dijambret akhirnya wanita ini gagal belanja.
Korban ketika itu datang dari arah Rawamangun melintas menuju Jl Ahmad Yani, namun wanita berambut sebahu itu tidak menyadari semenjak melintas di Rawasari sudah dibuntuti satu pengendara sepeda motor yang belakangan diketahui bandit jambret. Motor korban semula sempat di dahului kemudian korban kembali mendahului motor pelaku.
Namun begitu mendekati SPBU (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum), bandit kelompok Pendongkelan,Jaktim, itu memepet korban hingga wanita itu nyaris terjatuh, tas yang nyantol di depan bawah jok dirampas pelaku
Setelah tas berpindah tangan, wanita tidak tinggal diam malah bandit tunggal yang kabur kearah Cocacolla diuber sambil diteriaki rampok…rampok, hingga mengundang perhatiam massa maupun petugas lagi diploting di Jalan Ahmad Yani.
Tak pelak lagi, polisi dengan mengendarai motor RX King turut menguber bandit tersebut dan pelaku sempat terjatuh setelah menabrak trotoar kemudian dibekuk pengojek. Massa sempat emosi mendaratkan pukulan mengenai wajah hingga darah segar mencrot dari hidung.
Petugas serse yang ikut mengejar berhasil menyelamatkan bandit jalanan itu dari amukan warga. Kini tersangka Risma Kasim, sudah 7 kali menjambret diamankan ke kantor polisi bersama tas dan sepeda motor yang dipakai menjambret.
“Akibat perbuatannya itu ia akan dikenakan pasal 363 KUHP, dengan ancaman pidana 7 tahun penjara,”tegas Supriyadi WANITA KEJAR BANDIT YANG JAMBRET TASNYA
Nepal’s Young Men, Lost to Migration, Then a Quake
Photo
Many bodies prepared for cremation last week in Kathmandu were of young men from Gongabu, a common stopover for Nepali migrant workers headed overseas.Credit Daniel Berehulak for The New York Times
KATHMANDU, Nepal — When the dense pillar of smoke from cremations by the Bagmati River was thinning late last week, the bodies were all coming from Gongabu, a common stopover for Nepali migrant workers headed overseas, and they were all of young men.
Hindu custom dictates that funeral pyres should be lighted by the oldest son of the deceased, but these men were too young to have sons, so they were burned by their brothers or fathers. Sukla Lal, a maize farmer, made a 14-hour journey by bus to retrieve the body of his 19-year-old son, who had been on his way to the Persian Gulf to work as a laborer.
“He wanted to live in the countryside, but he was compelled to leave by poverty,” Mr. Lal said, gazing ahead steadily as his son’s remains smoldered. “He told me, ‘You can live on your land, and I will come up with money, and we will have a happy family.’ ”
Weeks will pass before the authorities can give a complete accounting of who died in the April 25 earthquake, but it is already clear that Nepal cannot afford the losses. The countryside was largely stripped of its healthy young men even before the quake, as they migrated in great waves — 1,500 a day by some estimates — to work as laborers in India, Malaysia or one of the gulf nations, leaving many small communities populated only by elderly parents, women and children. Economists say that at some times of the year, one-quarter of Nepal’s population is working outside the country.