MAU UMROH BERSAMA TRAVEL TERBAIK DI INDONESIA ALHIJAZ INDO WISTA..?

YOOK LANGSUNG WHATSAPP AJA KLIK DISINI 811-1341-212
 

umroh ramadhan

Setiap jamaah yang berangkat umroh atau haji khusus Call/Wa. 08111-34-1212 pasti menginginkan perjalanan ibadah haji plus atau umrohnya bisa terlaksana dengan lancar, nyaman dan aman sehingga menjadi mabrur. Demi mewujudkan kami sangat memahami keinginan para jamaah sehingga merancang program haji onh plus dan umroh dengan tepat. Jika anda ingin melaksanakan Umrah dan Haji dengan tidak dihantui rasa was-was dan serta ketidakpastian, maka Alhijaz Indowisata Travel adalah solusi sebagai biro perjalanan anda yang terbaik dan terpercaya.?agenda umroh 12 hari

Biro Perjalanan Haji dan Umrah yang memfokuskan diri sebagai biro perjalanan yang bisa menjadi sahabat perjalanan ibadah Anda, yang sudah sangat berpengalaman dan dipercaya sejak tahun 2010, mengantarkan tamu Allah minimal 5 kali dalam sebulan ke tanah suci tanpa ada permasalahan. Paket yang tersedia sangat beragam mulai paket umroh 9 hari, 12 hari, umroh wisata muslim turki, dubai, aqso. Biaya umroh murah yang sudah menggunakan rupiah sehingga jamaah tidak perlu repot dengan nilai tukar kurs asing. jadwal umroh november Tapos

saco-indonesia.com, Warga Perumahan Dewata Permai, Desa Sading, Kecamatan Mengwi, Badung, Bali, telah dikejutkan dengan temuan ular sanca sepanjang 2,7 meter tak jauh dari permukiman mereka.
 
Hewan berbisa itu telah ditemukan tersangkut pancing yang sengaja dipasang warga lantaran sebelumnya telah menduga hewan tersebut berkeliaran di saluran irigasi di depan perumahan.
 
"Sehari sebelumnya, waktu mencari ayam piaraan saya, di sekitar lokasi, kok terdengar ada bunyi dan gerakan hewan seperti biawak bergerak cepat di saluran irigasi, " kata Budiono, warga perumahan, Selasa (4/2/2014).
 
Lantaran penasaran, dia langsung mencari ke mana hewan tersebut lari namun tidak kunjung ditemukan. Karena telah meyakini ada hewan berbahaya di sekitar tempat tinggal, sehingga Budiono telah memutuskan menangkapnya. Apalagi, anak-anak kerap bermain di sekitar lokasi untuk sekedar mencari ikan dan aktivitas lainnya.
 
Dipasanglah pancing di sekitar saluran air yang cukup jernih dengan dua mata pancing.

"Saya umpankan daging ayam, ketika saya cek lagi ke lokasi, ternyata hewan itu ular yang cukup panjang yang tersangkut pancing," imbuh pria asal Mojokerto, Jawa Timur itu.
 
Akhirnya, warga beramai-ramai untuk menangkap ular sanca atau phyton dengan warna warni hitam kecoklatan, abu-abu dengan bintik putih yang masih hidup. Setelah dengan susah payah mengeluarkan mata pancing yang menancap di leher ular, binatang melata itu kemudian diamankan dimasukkan karung. Binatang bersisik itu setelah diukur panjangnya mencapai 2,7 meter dan beratnya sekira 4,2 kilogram.
 
Temuan ular itu karuan telah menjadi tontonan warga perumahan terlebih anak-anak yang terlihat penasaran dengan hewan berbahaya itu. Setelah dipastikan aman, tak sedikit anak-anak tertarik sekedar memegang, mengelus tubuh ular tersebut. "Kalau tidak ditangkap, sangat membahayakan, apalagi anak-anak sering bermain di lokasi," jelasnya.
 
Untuk sementara, ular yang sudah terluka parah terkena pancing telah diamankankan oleh warga. Apakah nantinya akan dipelihara atau dijual, kata Budiono masih akan melihat perkembangan.


Editor : Dian Sukmawati

WARGA DI BALI TELAH DIGEGERKAN DENGAN PENEMUAN ULAR SANCA 2,7 METER
Photo
 
Many bodies prepared for cremation last week in Kathmandu were of young men from Gongabu, a common stopover for Nepali migrant workers headed overseas. Credit Daniel Berehulak for The New York Times

KATHMANDU, Nepal — When the dense pillar of smoke from cremations by the Bagmati River was thinning late last week, the bodies were all coming from Gongabu, a common stopover for Nepali migrant workers headed overseas, and they were all of young men.

Hindu custom dictates that funeral pyres should be lighted by the oldest son of the deceased, but these men were too young to have sons, so they were burned by their brothers or fathers. Sukla Lal, a maize farmer, made a 14-hour journey by bus to retrieve the body of his 19-year-old son, who had been on his way to the Persian Gulf to work as a laborer.

“He wanted to live in the countryside, but he was compelled to leave by poverty,” Mr. Lal said, gazing ahead steadily as his son’s remains smoldered. “He told me, ‘You can live on your land, and I will come up with money, and we will have a happy family.’ ”

Weeks will pass before the authorities can give a complete accounting of who died in the April 25 earthquake, but it is already clear that Nepal cannot afford the losses. The countryside was largely stripped of its healthy young men even before the quake, as they migrated in great waves — 1,500 a day by some estimates — to work as laborers in India, Malaysia or one of the gulf nations, leaving many small communities populated only by elderly parents, women and children. Economists say that at some times of the year, one-quarter of Nepal’s population is working outside the country.

Nepalís Young Men, Lost to Migration, Then a Quake

Artikel lainnya »