MAU UMROH BERSAMA TRAVEL TERBAIK DI INDONESIA ALHIJAZ INDO WISATA..?

YOOK LANGSUNG WHATSAPP AJA KLIK DISINI 811-1341-212
 

ITINERARY PERJALANAN UMROH REGULER 10HARI JUMATAIN

saco-indonesia.com, Cinta dan mengharapkan hubungan intim, telah membuat Asido Simangunsong yang berusia 22 tahun , nekat untuk membunuh Feby Lorita yang berusia 31 tahun . Terlebih, korban yang telah meminta ganti rugi sebesar Rp10 juta atas perlakuan kasarnya, telah membuat pria pengangguran ini gelap mata.

Asido juga mengungkapkan kisah pembunuhan yang menurut pengakuannya diawali dengan cerita tak terbalas. Pasalnya, ia dan Feby juga sudah memiliki kedekatan antara satu dengan lainnya, meski pelaku telah memiliki kekasih bernama Astri yang selama ini diakuinya sebagai istri.

Pria pengangguran ini telah berhasil masuk ke dalam kehidupan Feby dengan membantu bisnis rental mobil milik Feby. Kedekatan tersebut terus berlanjut hingga pada Rabu (22/1) lalu, keduanya bertemu di kawasan UKI, Cawang, Jakarta Timur.

Menurut pengakuan Asido, dalam perjalanan dari tempat tersebut, ia juga mengutarakan isi hatinya kepada Feby. Asido juga mengatakan bahwa ia mencintai Feby dan ingin menjalin hubungan asmara dengannya. Namun, ungkapan cinta Asido itu ternyata tidak berbuah manis. Feby telah menolak ungkapan itu mentah-mentah dengan alasan Asido telah beristri dan selama ini mereka tinggal dalam satu komplek apartemen yang sama.

“Apa-apaan sih kamu Do. Gila kamu ya, bajingan kamu, kamu kan sudah punya istri,” ujar Asido menirukan perkataan Feby saat itu.

Pernyataan Feby tersebut pun kemudian telah membuat Asido emosi yang berlanjut pada perdebatan di antara keduanya. Tak lama berdebat, karena sama-sama emosi, mereka pun saling melukai secara fisik. “Dia duluan pukul saya, ini saya masih ada bekas cakaran. Saya balas juga pukul dia hingga gigi depannya copot,” ungkap Asido.

Melihat Feby terluka dan berdarah, Asido menghentikan aksinya. Sementara Feby yang tidak terima akan perbuatan Asido telah menganiayanya, meminta ganti rugi untuk perawatan luka tersebut. Feby pun juga meminta untuk bertemu dengan keluarga Asido untuk memastikannya bertanggung jawab dan bersedia menanggung biaya perobatan. “Dia (Feby) minta ganti rugi Rp10 juta atas copotnya gigi,” tuturnya.

Asido yang membujuk korban akhirnya telah membawa Feby ke rumah orang tuanya di kawasan Perum Citayam, Depok, Jawa Barat yang ternyata sedang tidak ditinggali. Sesampai di rumah tersebut, keduanya berbincang-bincang selama beberapa jam. “Disana dia mulai berulah lagi, makanya langsung saya cekik dan tak berapa lama lehernya saya tusuk,” ungkapnya.


Editor : Dian Sukmawati

CINTA DITOLAK MEMBUAT EDO HABISI NYAWA FEBY LORITA
Photo
 
Many bodies prepared for cremation last week in Kathmandu were of young men from Gongabu, a common stopover for Nepali migrant workers headed overseas. Credit Daniel Berehulak for The New York Times

KATHMANDU, Nepal — When the dense pillar of smoke from cremations by the Bagmati River was thinning late last week, the bodies were all coming from Gongabu, a common stopover for Nepali migrant workers headed overseas, and they were all of young men.

Hindu custom dictates that funeral pyres should be lighted by the oldest son of the deceased, but these men were too young to have sons, so they were burned by their brothers or fathers. Sukla Lal, a maize farmer, made a 14-hour journey by bus to retrieve the body of his 19-year-old son, who had been on his way to the Persian Gulf to work as a laborer.

“He wanted to live in the countryside, but he was compelled to leave by poverty,” Mr. Lal said, gazing ahead steadily as his son’s remains smoldered. “He told me, ‘You can live on your land, and I will come up with money, and we will have a happy family.’ ”

Weeks will pass before the authorities can give a complete accounting of who died in the April 25 earthquake, but it is already clear that Nepal cannot afford the losses. The countryside was largely stripped of its healthy young men even before the quake, as they migrated in great waves — 1,500 a day by some estimates — to work as laborers in India, Malaysia or one of the gulf nations, leaving many small communities populated only by elderly parents, women and children. Economists say that at some times of the year, one-quarter of Nepal’s population is working outside the country.

Nepal’s Young Men, Lost to Migration, Then a Quake

Artikel lainnya »