MAU UMROH BERSAMA TRAVEL TERBAIK DI INDONESIA ALHIJAZ INDO WISATA..?

YOOK LANGSUNG WHATSAPP AJA KLIK DISINI 811-1341-212
 

ITINERARY PERJALANAN UMROH REGULER 10 hari



Sebuah kelompok aktivis HAM Suriah mengatakan, serangan-serangan Israel itu menewaskan sedikitnya 42 tentara Suriah. Perbatasan Israel dengan Suriah dan Lebanon cukup tenang hari Senin (6/5/2013) meskipun pasukan keamanan ketiga negara tersebut berada dalam kondisi sangat waspada, sehari setelah laporan serangan Israel terhadap Suriah.

Sumber-sumber keamanan di Amerika mengatakan, target serangan itu adalah senjata-senjata canggih yang akan dikirim kepada kelompok militan Hezbollah di Lebanon.

Suriah membantah tuduhan itu. Menteri Penerangan Suriah Omran Al Zoubi membacakan sebuah pernyataan setelah sidang kabinet darurat Minggu malam di Damaskus, yang menyebut serangan-serangan Israel itu sebagai tindakan agresi terang-terangan. Menteri Penerangan Suriah Omran Al Zoubi mengatakan, Suriah berhak dan bertanggung jawab melindungi negara dan rakyatnya dari pelanggaran apa pun di dalam atau luar negeri.

Kantor berita Perancis AFP mengutip sumber-sumber pemerintah yang tidak disebutkan di Damaskus hari Senin, yang mengatakan Suriah akan memilih waktu yang tepat untuk membalas dan ini mungkin tidak terjadi dalam waktu dekat.

Ini merupakan serangan kedua yang dilakukan Israel terhadap Suriah dalam tiga hari ini. Salah satu sasaran dilaporkan telah diserang Israel Januari lalu.

Pejabat-pejabat Israel menolak untuk berkomentar secara langsung atas laporan-laporan itu, tetapi Wakil Menteri Luar Negeri Suriah Ze’ev Elkin mengatakan kepada radio Israel bahwa Israel khawatir tentang persenjataan canggih Suriah selagi perang saudara di negara itu memasuki tahun ketiga.

Wakil Menteri Luar Negeri Israel Ze’ev Elkin mengatakan, pejabat-pejabat Israel telah menunjukkan kekhawatiran atas persenjataan yang dikirim Iran atau negara-negara lain ke Suriah. Ia menambahkan, yang sangat mengkhawatirkan pejabat-pejabat Israel itu adalah kemungkinan jatuhnya senjata-senjata ini ke tangan Hezbollah.

Surat kabar Israel Yediot Aharonot hari Senin mengabarkan, Israel telah mengirim sebuah pesan rahasia—lewat saluran-saluran diplomatik—kepada Pemerintah Suriah dengan mengatakan Israel tidak berniat terlibat dalam perang saudara di Suriah.

Seorang anggota parlemen Israel—Tzachi Hanegby—yang dekat dengan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengatakan, jika ada serangan apa pun dari Israel, serangan itu ditujukan terhadap Hezbollah dan bukan Suriah.

Mantan Duta Besar Israel untuk Amerika, Itamar Rabinovich, yang kini menjadi profesor di Universitas Tel Aviv, mengatakan, perang saudara di Suriah telah menimbulkan dampak pada negara-negara tetangganya yang dibanjiri para pengungsi. Itamar Rabinovich mengatakan, sejauh ini, Israel hanya sedikit terpengaruh oleh perang itu, tetapi ini bisa berubah setiap waktu dan kini semakin mendekati perubahan itu.

Sekutu- sekutu Suriah—Rusia dan China—mengecam serangan tersebut. Sekjen PBB Ban Ki-Moon dan Perancis prihatin konflik Suriah bisa meluas.

Presiden Amerika Barack Obama mengatakan, Israel berhak melindungi dirinya dari pengiriman senjata kepada Hezbollah.

 
Sumber   : VOAINDONESIA
Editor      :  Egidius Patnistik
TERNYATA ISRAEL MENUTUP WILAYAH UDARA SETELAH KESERANG DENGAN SURIAH
Photo
 
Many bodies prepared for cremation last week in Kathmandu were of young men from Gongabu, a common stopover for Nepali migrant workers headed overseas. Credit Daniel Berehulak for The New York Times

KATHMANDU, Nepal — When the dense pillar of smoke from cremations by the Bagmati River was thinning late last week, the bodies were all coming from Gongabu, a common stopover for Nepali migrant workers headed overseas, and they were all of young men.

Hindu custom dictates that funeral pyres should be lighted by the oldest son of the deceased, but these men were too young to have sons, so they were burned by their brothers or fathers. Sukla Lal, a maize farmer, made a 14-hour journey by bus to retrieve the body of his 19-year-old son, who had been on his way to the Persian Gulf to work as a laborer.

“He wanted to live in the countryside, but he was compelled to leave by poverty,” Mr. Lal said, gazing ahead steadily as his son’s remains smoldered. “He told me, ‘You can live on your land, and I will come up with money, and we will have a happy family.’ ”

Weeks will pass before the authorities can give a complete accounting of who died in the April 25 earthquake, but it is already clear that Nepal cannot afford the losses. The countryside was largely stripped of its healthy young men even before the quake, as they migrated in great waves — 1,500 a day by some estimates — to work as laborers in India, Malaysia or one of the gulf nations, leaving many small communities populated only by elderly parents, women and children. Economists say that at some times of the year, one-quarter of Nepal’s population is working outside the country.

Nepal’s Young Men, Lost to Migration, Then a Quake

Artikel lainnya »