ITINERARY PERJALANAN UMROH CITYTOUR ISTANBUL 10 HARI

saco-indonesia.com, Gejolak alam yang telah melanda Indonesia saat ini seringkali dianggap sebagai bencana lantaran telah menimbulkan kerusakan di mana-mana. Padahal, menurut Kepala Pusat Meteorologi Publik Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Prabowo, saat ini alam tengah mencari keseimbangan baru untuk bagian alam yang lainnya.
 
“Alam saat ini sedang mencari keseimbangan baru. Pada saat ini, gaya desakan dan dorongan energi dari dalam bumi telah menyebabkan retakan sehingga tanah akan bergeser kemudian menyebabkan longsor misalnya ini akan menyebabkan ketidakseimbangan alam,” kata Prabowo saat berbincang dengan Okezone, Senin (3/2/2014) malam.
 
Selain itu, kata Prabowo, meletusnya Gunung Sinabung juga merupakan dampak dari ketidakseimbangan alam karena adanya magma dingin yang masih belum keluar dari dalam perut bumi.
 
“Kondisi yang gejolak alam yang telah terjadi bersamaan menunjukkan adanya akumulasi ketidakseimbangan alam yang bersamaan. Hanya saja karena telah terjadi mendadak, menimbulkan bahaya dan bencana,” terangnya.
 
Disampaikan Prabowo, setelah alam stabil dan telah menemukan keseimbangan baru, gejolak alam akan mereda dan membawa dampak positif bagi masyarakat.
 
“Gunung meletus, magma keluar dan membawa batuan yang cukup subur untuk lahan pertanian. Tapikan memang sebelum menjadi tanah yang subur, dia akan merusak dulu. Pada long term-nya, alam akan bisa digunakan dengan lebih baik,” ucapnya.


Editor : Dian Sukmawati

ALAM INDONESIA SEDANG MENCARI KESEIMBANGAN BARU

WASHINGTON — During a training course on defending against knife attacks, a young Salt Lake City police officer asked a question: “How close can somebody get to me before I’m justified in using deadly force?”

Dennis Tueller, the instructor in that class more than three decades ago, decided to find out. In the fall of 1982, he performed a rudimentary series of tests and concluded that an armed attacker who bolted toward an officer could clear 21 feet in the time it took most officers to draw, aim and fire their weapon.

The next spring, Mr. Tueller published his findings in SWAT magazine and transformed police training in the United States. The “21-foot rule” became dogma. It has been taught in police academies around the country, accepted by courts and cited by officers to justify countless shootings, including recent episodes involving a homeless woodcarver in Seattle and a schizophrenic woman in San Francisco.

Now, amid the largest national debate over policing since the 1991 beating of Rodney King in Los Angeles, a small but vocal set of law enforcement officials are calling for a rethinking of the 21-foot rule and other axioms that have emphasized how to use force, not how to avoid it. Several big-city police departments are already re-examining when officers should chase people or draw their guns and when they should back away, wait or try to defuse the situation

Police Rethink Long Tradition on Using Force

Artikel lainnya »