MAU UMROH BERSAMA TRAVEL TERBAIK DI INDONESIA ALHIJAZ INDO WISTA..?

YOOK LANGSUNG WHATSAPP AJA KLIK DISINI 811-1341-212
 

Paket Umroh Full di bulan Ramadhan

Saco-Indonesia.com - Seorang wanita di Arab Saudi hidup sebagai seorang pengemis di sebagian besar hidupnya hingga berusia seratus tahun. Namun ketika dia wafat, dirinya meninggalkan uang belasan miliar dan empat bangunan.

Dikenal sebagai Aisyah, wanita itu telah memberitahu seorang tetangganya tepat sebelum kematiannya untuk memberikan uangnya kepada pihak berwenang lantaran dia tidak memiliki keluarga, seperti dilansir situs emirates247.com, Senin (17/3).

Koran Saudi berbahasa Arab, Okaz memperkirakan kekayaan Aisyah senilai Rp 15,1 miliar ditambah dengan empat bangunan besar di kota pelabuhan Jeddah, tempat di mana Aisyah telah mempraktikkan profesinya sebagai pengemis selama lebih dari 50 tahun.

"Dia memiliki uang tunai sekitar Rp 12,1 miliar, koin emas senilai lebih dari Rp 3 miliar dan empat bangunan," tulis Okaz, mengutip seorang pria menjadi tetangga Aisyah.

Pria tidak disebutkan identitasnya itu mengatakan dia telah melayani Aisyah selama bertahun-tahun sebelum akhirnya meninggal pekan ini.

"Sebelum kematiannya, dia meminta saya untuk memberitahu pihak berwenang dan memberikan semua uang dan properti miliknya kepada mereka," ujar dia.

Pria itu mengatakan dirinya telah menyerahkan kekayaan Aisyah kepada seorang petinggi di lingkungannya di hadapan semua pejabat lainnya. Dia telah berjanji untuk melakukan prosedur menyerahkan kekayaan Aisyah ke pihak berwenang secepatnya.

Sumber : Merdeka.com

Editor:Maulana Lee

Wanita Saudi wafat sebagai miliuner, Padahal Selama Puluhan tahun jadi pengemis

WASHINGTON — During a training course on defending against knife attacks, a young Salt Lake City police officer asked a question: “How close can somebody get to me before I’m justified in using deadly force?”

Dennis Tueller, the instructor in that class more than three decades ago, decided to find out. In the fall of 1982, he performed a rudimentary series of tests and concluded that an armed attacker who bolted toward an officer could clear 21 feet in the time it took most officers to draw, aim and fire their weapon.

The next spring, Mr. Tueller published his findings in SWAT magazine and transformed police training in the United States. The “21-foot rule” became dogma. It has been taught in police academies around the country, accepted by courts and cited by officers to justify countless shootings, including recent episodes involving a homeless woodcarver in Seattle and a schizophrenic woman in San Francisco.

Now, amid the largest national debate over policing since the 1991 beating of Rodney King in Los Angeles, a small but vocal set of law enforcement officials are calling for a rethinking of the 21-foot rule and other axioms that have emphasized how to use force, not how to avoid it. Several big-city police departments are already re-examining when officers should chase people or draw their guns and when they should back away, wait or try to defuse the situation

Police Rethink Long Tradition on Using Force

Artikel lainnya »