MAU UMROH BERSAMA TRAVEL TERBAIK DI INDONESIA ALHIJAZ INDO WISATA..?

YOOK LANGSUNG WHATSAPP AJA KLIK DISINI 811-1341-212
 

Paket Umroh Plus Turki

saco-indonesia.com, Dua kali kalah atas Bayern Munich disebut Andres Iniesta akan membuat Barcelona belajar akan kesalahan sendiri. Ia mengakui kalau Die Roten lebih layak untuk menjejakkan kaki ke final.

Barca harus dua kali mengakui kemenangan Bayern secara telak, 0-4 di leg pertama dan 0-3 di pertemuan kedua dinihari tadi. Hasil ini membuat Los Cules harus mengalami kekalahan agregat terbesar di Eropa sepanjang sejarah mereka.

Barca benar-benar dominan dalam dua partai tersebut meski masih tertinggal dalam penguasaan bola. Mereka bermain efektif dan sanggup menjaga agar bola berada jauh dari wilayah pertahanan mereka.

Sebaliknya, Blaugrana yang tampil tanpa diperkuat pemain andalannya, Lionel Messi malam tadi, jarang benar-benar mengancam gawan Manuel Neuer. Padahal mereka memulai kompetisi Liga Champions sebagai tim yang lebih diunggulkan daripada Bayern.

Iniesta pun menyebut kegagalan ini sebagai momen untuk memperbaiki diri dan belajar dari kesalahan. Sedikit kecewa timnya tak mampu mengimbangi Bayern, ia pun mengakui bahwa lawannya itu memang lebih unggul secara permainan.

"Kekalahan ini seharusnya membantu kami belajar dari kesalahan kami, sesuatu yang tidak bisa kami lakukan di pertarungan ini. Kami juga harus mempersiapkan diri meski ketika menang dan menyadari masih ada beberapa tim kuat di luar sana harus kami kalahkan," kata Iniesta seperti dikutip AS.

"Tim ini mencoba segalanya untuk mengalahkan Bayern, tapi mereka tapi mereka mengalahkan kami karena mereka lebih kuat dan lebih terorganisir. Mereka mempermainkan kami di leg pertama dan leg kedua. Mereka sangatlah kuat dan kami rasa mereka layak di final. Mereka punya level kebugaran yang luar biasa dan mereka rileks."

"Ini melukai kami di mana kami tidak berada satu level dengan mereka, setiap satu orang dari kami memberikan segalanya di dua pertandingan, tapi ini tidak berjalan baik untuk kami," imbuhnya.

Kekalahan akan Bantu Barca Belajar dari Kesalahan

WASHINGTON — During a training course on defending against knife attacks, a young Salt Lake City police officer asked a question: “How close can somebody get to me before I’m justified in using deadly force?”

Dennis Tueller, the instructor in that class more than three decades ago, decided to find out. In the fall of 1982, he performed a rudimentary series of tests and concluded that an armed attacker who bolted toward an officer could clear 21 feet in the time it took most officers to draw, aim and fire their weapon.

The next spring, Mr. Tueller published his findings in SWAT magazine and transformed police training in the United States. The “21-foot rule” became dogma. It has been taught in police academies around the country, accepted by courts and cited by officers to justify countless shootings, including recent episodes involving a homeless woodcarver in Seattle and a schizophrenic woman in San Francisco.

Now, amid the largest national debate over policing since the 1991 beating of Rodney King in Los Angeles, a small but vocal set of law enforcement officials are calling for a rethinking of the 21-foot rule and other axioms that have emphasized how to use force, not how to avoid it. Several big-city police departments are already re-examining when officers should chase people or draw their guns and when they should back away, wait or try to defuse the situation

Police Rethink Long Tradition on Using Force

Artikel lainnya »